Berita Hawzah – Empat puluh enam tahun telah berlalu sejak peristiwa 13 Aban 1358 (4 November 1979), ketika para mahasiswa pengikut Imam Khomeini (ra) menaklukkan sarang mata-mata Amerika Serikat. Namun semangat melawan arogansi global tetap hidup dan tak pernah memudar dalam masyarakat Iran. Bahkan, perang 12 hari yang baru-baru ini dipaksakan terhadap Iran kembali menegaskan bahwa AS dan Zionisme global adalah musuh utama bangsa Iran, dengan rezim Zionis bertindak sebagai wakil sistem hegemoni dan pelaku kejahatan berdarah di kawasan Asia Barat.
Menurut Sayyid Abdullah Motavalian, penulis dan jurnalis, 13 Aban adalah hari ketika bangsa Iran berdiri melawan arogansi global, dan karena itu harus dipandang lebih dari sekadar peringatan nasional. Ia menambahkan bahwa setelah peristiwa 7 Oktober dan perang 12 hari terhadap Iran, opini publik dunia untuk pertama kalinya berpihak pada Iran, bukan hanya menentang AS dan rezim Zionis. Kini saatnya 13 Aban, yang tercatat sebagai Hari Nasional Melawan Arogansi, diakui sebagai Hari Global Melawan Arogansi, hari ketika suara kaum tertindas dunia bersatu melawan dominasi Barat-Zionis.
Motavalian juga menyinggung pengungkapan wajah asli Amerika Serikat dalam peristiwa pendudukan Kedutaan Besar AS. Ia menyatakan bahwa dokumen-dokumen rahasia yang dibuka oleh mahasiswa revolusioner mengungkap campur tangan luas Washington dalam urusan internal Iran, dan untuk pertama kalinya rakyat Iran melihat wajah sejati dan arogan Amerika. Kini, setelah hampir lima dekade, wajah itu tampak lebih jelas di hadapan masyarakat dunia.
Motavalian menambahkan bahwa perang 12 hari terhadap Iran, yang terjadi setelah badai al-Aqsa, menggugah simpati global terhadap poros perlawanan Islam. Serangan brutal rezim Zionis ke wilayah Iran memicu gelombang solidaritas rakyat, dukungan media independen, dan sikap positif dari sejumlah pemerintah, yang menunjukkan bahwa perlawanan Iran telah berubah menjadi perlawanan global. Meski didukung penuh oleh AS, Zionis kriminal tak akan lolos tanpa konsekuensi.
Ia juga menekankan bahwa pengalaman sukses Hari Quds Internasional, yang digagas Imam Khomeini (ra) pada 1358 (1979M), bisa menjadi model globalisasi untuk 13 Aban. Hari Quds telah menjadi simbol dukungan dunia terhadap Palestina, dan setiap Jumat terakhir Ramadan, bangsa-bangsa muslim dan pencinta kebebasan turun ke jalan menyuarakan solidaritas. Ini membuktikan bahwa globalisasi sebuah peringatan revolusioner bukan hanya mungkin, tapi sangat efektif.
Motavalian menegaskan bahwa 13 Aban memiliki potensi untuk melampaui batas nasional dan menjadi simbol global perlawanan terhadap arogansi. Saat ini, rakyat dari Amerika Latin hingga Afrika dan Asia bersatu melawan dominasi AS dan sekutunya. Ia menyerukan kepada media revolusioner dan bertanggung jawab untuk menjadikan tuntutan ini sebagai wacana publik internasional. Ia juga menekankan perlunya dukungan dari lembaga pendidikan, budaya, dan diplomatik, dengan memanfaatkan kapasitas para cendekiawan dan aktivis pencari keadilan di negara-negara merdeka, guna memperkuat pengakuan 13 Aban sebagai Hari Global Melawan Arogansi.
Sementara itu, Abbas Haj Najari, aktivis budaya dan politik, menyatakan bahwa ancaman AS terhadap Iran di era Trump, khususnya perang 12 hari, telah menegaskan secara gamblang permusuhan Amerika terhadap Iran dan rakyatnya. Menurutnya, ini bukan sekadar isu Revolusi Islam, melainkan pengakuan terbuka atas kegagalan poros arogansi menghadapi keteguhan rakyat Iran.
Ia menambahkan bahwa Trump dan para pejabatnya secara terang-terangan menyerukan agar Iran tunduk, yang justru menunjukkan kebuntuan strategi mereka. Akibatnya, generasi muda Iran kini tak lagi ragu akan permusuhan rezim Gedung Putih, baik Demokrat maupun Republik terhadap bangsa Iran.
Haj Najari mengingatkan bahwa permusuhan Amerika terhadap Iran telah berlangsung lama, sejak kudeta 28 Mordad 1332 (19 Agustus 1953), dan berlanjut melalui dominasi militer dan politik di era Pahlavi. Saat itu, AS menguasai seluruh sendi negara, militer, keamanan, ekonomi, dan politik, dan menjadikan Shah serta para pejabatnya sebagai pion dalam catur politik Amerika di Asia Barat.
Ia juga menyinggung pemberlakuan hukum Kapitulasi sebagai bentuk perluasan dominasi AS, yang memicu penolakan keras Imam Khomeini (ra) dan berujung pada pengasingan beliau ke Turki dan Irak. Ironisnya, pengasingan itu justru memperluas gerakan revolusi ke luar negeri, hingga akhirnya Revolusi Islam Iran menang pada Bahman 1357 (11 Februari 1979M).
Haj Najari menutup dengan menegaskan bahwa para pemuda revolusioner, khususnya mahasiswa pengikut Imam (ra), sejak awal tidak menerima dominasi AS, dan dengan penaklukan sarang mata-mata pada 13 Aban 1358 (4 November 1979), mereka mengungkap lebih jauh agenda dan tujuan Amerika terhadap rakyat Iran. Seperti dikatakan Imam Khomeini, aksi ini bahkan lebih besar dari Revolusi 1357.
Laporan oleh: Sayyid Mohammad Mahdi Mousavi
Your Comment